04/02/2015

Seorang Jawa yang Tidak Berbahasa Jawa

Sebagai seorang yang besar di Solo selama 15 tahun hingga saat ini, saya jadi menyerupai ciri-ciri orang Solo kebanyakan. Banyak strangers yang ketika memperkenalkan diri dan menanyai asal lalu saya menjawab kalo saya berasal dari Solo, mereka seperti langsung ber-oh-oh. Seperti "Oh dari Solo, pantes kalem banget." atau "Oh wong Solo, tho. Alus banget ngomong e." sampai "Oh dari Solo. Mirip Jokowi ya." Hehehe.

Padahal saya sebenernya orang Surabaya. Saya lahir di Surabaya. Ibu saya orang Madura, Bapak saya orang Jember. Sebenernya saya masih bingung juga sih dengan konsep 'asli mana'. Asli saya orang Surabaya tapi saya besar di Solo. Solo sudah menjadi tempat saya besar (diulang-ulang). Jadi ya saya jawab saja kalo saya asli Solo, lha wong saya besar di Solo, dari TK sampai SMA (diulang lagi, iyo iyo Ga).

Tapi meskipun saya lama tinggal di Solo saya tidak fasih berbahasa Jawa, apalagi boso kromo inggilan. Aneh ya. Saya sampai dikira anak sombong, sok-sokan karena nggak mau pake Bahasa Jawa kalo diajak ngomong. Pernah waktu itu di acara mahasiswa baru saya diajak berkenalan dengan anak-anak dari luar daerah. Saya bilang saya asli Solo, kemudian anak-anak itu bilang kalo saya pasti bisa Bahasa Jawa. Saya bilang saja kalo saya belum fasih, eh mereka malah bilang kalo saya sok-sokan nggak mau pake Bahasa Jawa.

Jujur saya kalo diajak orang Solo asli atau orang yang bisa berbahasa Jawa suka deg-degan. Takut nanti kalo diajak ngomongnya apa, jawabnya apa. Apalagi kalo orang tersebut sudah pakai Bahasa Jawa yang kromo inggilan. Waduh lidah saya sampai kelu. Biasanya kalo sudah gini, sih saya bilang saja ke mereka kalo saya ora iso jowo-an. Tapi saya malah dimarahi karena melupakan bahasa daerah. Walaupun ujung-ujungnya mereka juga maklum, apalagi sekarang banyak anak muda (tsieeeh) yang udah nggak berbahasa Jawa dengan baik dan benar.

Pernah ada kejadian lucu gara-gara dapat predikat wong Solo, saya diharapkan bisa berbahasa Jawa. Jadi waktu itu ada kegiatan survey untuk tugas kuliah. Survey-nya di Bojonegoro, karena tema tugasnya pariwisata, maka saya dan teman sekelompok pergi ke objek-objek pariwisata di Bojonegoro (yang penasaran di Bojonegoro itu ada apa aja, buka Instagram saya, @algawbs). Salah satu objek itu adalah Wisata Budaya Suku Samin yang jaraknya dari kota sangat jauh dan letaknya bagaikan desa ninja yang tersembunyi di dalam hutan ( keren deh!). Nah sampai di sana saya dan teman-teman mewawancarai seorang Ketua Adat Suku Samin bernama Mbah Samin. Mbah Samin ini hanya bisa ngomong Bahasa Jawa, yang kromo inggil lagi. Teman-teman pun langsung menunjuk saya yang bertugas untuk mewawancarai. Setelah sebelumnya teman saya, si Sonya yang dengan gembira mewawancarai dengan Bahasa Indonesia langsung ditolak Mbah Samin hahaha. Mampus, saya pun gelagapan nggak bisa kromo inggilan. Saya bingung mencari-cari kosakata yang tepat dan bicara saya tersendat-sendat. Akhirnya teman saya, si Nikita/Mbechi/Mbak Kik, wanita Suroboyo Tuban tulen lah yang mewawancarai Mbah Samin. Saya dimarahi Nikita karena sebagai wong Solo ora iso jowo-an.
Saya malu.

Bahasa Jawa menurut saya sulit sekali untuk dipelajari, saya dari SD sampai SMA pasti selalu dapat nilai jelek setiap ulangan. Lebih sulit dari Bahasa Inggris atau Bahasa Jerman, tapi masih sulit Bahasa Mandarin sih. Jadi Bahasa Jawa itu ada empat tingkat yaitu ngoko lugu, ngoko alus, kromo lugu dan kromo inggil. Setiap tingkat itu memiliki kosakata yang berbeda-beda, belum lagi susunannya arrrgh. Mendingan Bahasa Inggris, deh, masih gampang.

Saya bukannya tidak mau melestarikan budaya daerah. Saya suka kok kalo mendengarkan orang berbicara Bahasa Jawa apalagi yang kromo inggil, rasanya adem. Meskipun saya tidak fasih berbahasa Jawa, tapi saya masih bisa mengerti lho apa yang dikatakan, mau itu kromo inggil sekalipun. Selain itu saya juga pinter banget kalo udah urusan sama ha-na-ca-ra-ka atau Aksara Jawa. Mending itu banget daripada kromo inggil-an. Setiap tes Bahasa Jawa pasti yang saya kerjakan duluan soal Aksara Jawa. Yaaa walaupun itu nggak membantu nilai Bahasa Jawa. Karena apa? Karena soal Aksara Jawa itu porsinya dikit. Hiks.

Sampai sekarang sih saya masih berbahasa Jawa ngoko kalo lagi sama temen. Selain itu juga saya berbahasa jowo suroboyoan yang slengekan dan asik, maklum saya kuliah ini sudah hampir 4 tahun di Surabaya jadi fasih jowo suroboyoan. Lucunya banyak slang words dari jowo suroboyan yang pengucapannya bikin ngakak. Beda sama Bahasa Jawa-Solo dan sekitarnya yang masih halus kayak pantat bayi.

Intinya sih walaupun kalian fasih atau tidak berbahasa daerah, berbahasa Indonesia haruslah baik dan benar. Karena sekarang gara-gara pengaruh dialog sinetron dan FTV (tidak, orang Solo sehari-harinya tidak selalu medok dan pakai batik lurik), Bahasa Indonesia yang baik dan benar semakin tergerus. Ya semoga itu jangan sampai terjadi sih. Denger-denger Bahasa Indonesia bahkan akan dijadikan bahasa ibu di ASEAN ini. Wah syukur kalo terjadi.

ini mengerikan sekali guys...

30/01/2015

Spend Your Time in 9GAG!

Thanks to 9GAG.

Besides I go through 9GAG's timeline, I go to their comment section.
And this what I got from it while I'm 9Gaggin'.

On how to not please all people:




















On how to stay focus:




















On how to be happy:




















On how being different take a lot of courage:




















On how to adapting but not losing yourself:




















On being stand up for your voice:




















BAM!




















On religion:




















On society:




















On equality:




















On amazing life stories:






































There is also some useful tips, for example this trick to take a beautiful photos of night sky:




















But there are also humors, it's 9GAG everybody!






































I know this sounds lame, like this whole article. But the best thing since I join this community that I got mentioned by Alex J. Fontana! He is also a 9Gagger!




















Believe it or not, with 9GAG my confidence boosting up and make me be independent and know that life is too short to be stressed about.

And I also don't feel alone anymore. (Thanks to 9Chat!)

Just like 9GAG's tagline: Forever Alone No More
Well, 9GAG I think you are right!

10/10/2014

Seminyak

Sebagai mahasiswa semester 7, saya setiap mendengar kata 'seminar' yang terpikirkan di benak saya adalah Pantai Seminyak di Bali. Rasanya saya pengen menenangkan diri di deretan kafe al fresco sembari (((sembari))) menikmati matahari terbenam di penghujung petang (((petang))). Syahdu hiperbolis sekali.

Bagi kami mahasiswa semester 7 atau siapapun yang sedang berjuang 'seminar' pasti butuh rehat sejenak. Tapi pasti rehat yang dilakukan hanya bersifat sementara lalu stress lagi, meskipun tetap saja bisa menenangkan pikiran. Biasanya siapapun yang mendengar kata 'seminar' pasti langsung keder atau ada rasa gimana yang tidak nyaman termasuk saya.

Lalu kenapa saya bisa-bisanya kok kepikiran Seminyak setiap mendengar kata 'seminar'?
Saya orangnya memang cenderung terlalu nyantai dan perlu tingkat kesadaran yang tinggi. Saya orangnya juga suka jalan-jalan. Jadi saya kemudian memirip-miripkan 'seminar' dengan Seminyak padahal tidak ada korelasinya sama sekali.
Saya kepikiran Seminyak bukan berarti saya tidak kepekiran 'seminar' saya. Saya kepikiran.
Stress sebenarnya. Tapi buat apa stress lama-lama. Jerawat yang ada di wajah sudah cukup menjadi dampak stress tersebut. Saya nggak mau jerawat saya tumbuh banyak.
Tapi buat-apa-stress-lama-lama bukan hanya sedangkal itu, tau kan maksud saya? Adakalanya bisa meledak kepala ini (bukan secara harafiah) kalo stress terus. Lagipula stress tidak hanya berasal dari satu hal saja seperti 'seminar' saja.
Kita butuh hal-hal yang bisa menenangkan dan menyenangkan sedikiiit saja biar pikiran tetap rasional. Hal paling sepele seperti ngobrol-ngobrol ringan dengan temen-temen bisa saja dilakukan sebenarnya.
Memikirkan 'seminar' dengan Seminyak entah membuat saya lebih termotivasi untuk bisa segera menyelesaikan 'seminar'. Membayangkan Seminyak yang sangat happening sekaligus menenangkan saat mengerjakan 'seminar' membuat saya semangat bahwa saya yakin saya bisa menyelesaikannya. Saya ingin cepat-cepat terbebas dari beban 'seminar' ini dan bisa segera refreshing, kalo bisa refreshing-nya di Seminyak hehehe (aamiiin).
Memang di saat-saat seperti ini dukungan moril dan motivasi lebih dibutuhkan daripada hanya sekedar membayangkan *kode* *semangatin aku dong*

Jadi kepada teman-temanku jangan stress-stress yaaa, love you muach!
SEMANGAT SEMINARNYAAA!

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------
*) Bagi yang belum tahu apa itu 'seminar' jadi seminar adalah salah satu mata kuliah di PWK ITS. Ngapain sih 'seminar' itu? Jadi 'seminar' itu seperti pra-penelitian, kamu dituntut untuk bisa membuat proposal penelitian yang bisa dijadikan sebagai penelitian di Tugas akhir nanti.